Rabu, 03 Juli 2013

FREEMASON,JIL DAN ZIONIS

Sejarah JIL
Islam liberal menurut Charless Kurzman muncul sekitar abad ke-18 dikala kerajaan Turki Utsmani Dinasti Shafawi dan Dinasti Mughal tengah berada digerbang keruntuhan. Pada saat itu tampillah para ulama untuk mengadakan gerakan permurnian, kembali kepada al-Quran dan sunnah. Pada saat ini muncullah cikal bakal paham liberal awal melalui Syah Waliyullah (India, 1703-1762), menurutnya Islam harus mengikuti adat lokal suatu tempat sesuai dengan kebutuhan pcnduduknya. Hal ini juga terjadi dikalangan Syiah. Aqa Muhammad Bihbihani (Iran, 1790) mulai berani mendobrak pintu ijtihad dan membukanya lebar-lebar.

Di Indonesia muncul Nurcholis Madjid (murid dari Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori gerakan firqah liberal bersama dengan Djohan Efendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wachid. (Adiyan Husaini dalam makalah Islam Liberal dan misinya menukil dari Greg Barton. Nurcholis Madjid telah memulai gagasan pembaruannya sejak tahun l970-an. Pada saat itu ia telah menyuarakan pluralisme agama dengan menyatakan: Rasanya toleransi agama hanya akan tumbuh di atas dasar paham kenisbian (relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama

HEBOH kasus oknum dosen satu perguruan tinggi di Lhokseumawe, yang belum lama disyahadatkan kembali oleh Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Lhokseumawe, serta meminta maaf kepada masyarakat muslim di Aceh (Serambi, 23/11/2012), masih terngiang dalam ingatan kita. Oknum dosen yang telah menghina Islam melalui tulisan di status-status facebook-nya itu, ternyata mengaku sebagai penganut aliran freemason.

Freemason adalah satu aliran yang mengedepankan moralitas tanpa peran agama. Humanisme menjadi cita-cita tertinggi kelompok freemason dalam memasarkan ide-idenya dengan tujuan merusak semua agama termasuk Islam. Jargon-jargon humanisme, pluralisme seolah-olah bagus dan memikat, seperti persaudaraan umat manusia, kemanusiaan universal, kecintaan terhadap perikemanusiaan, persamaan, kasih sayang, toleransi, perdamaian, dan lain sebagainya. Penganut aliran freemason menghendaki tidak adanya intervensi atas kehendak manusia dalam bersikap dan berperilaku, termasuk negara, bahkan Tuhan sekalipun. 

Kelompok Freemason dan Jaringan Islam Liberal (JIL) sama-sama didalangi oleh zionis yang memiliki agenda besar untuk mempersatukan semua manusia dibawah bendera Yahudi Raya. Cara kerja zionis Internasional dengan merekrut orang-orang lokal membentuk jaringan kerja, mulai dari aktivis kampung hingga para birokrat dan petinggi negeri. Jaringan ini bekerja di berbagai sektor kehidupan: pendidikan, perekonomian, birokrasi, politik, dan sosial kemasyarakatan.

 Penganut freemason
Pemahaman yang kuat terhadap agenda zionis Yahudi, karakter, gerak-gerik dan perilakunya, dipastikan akan menanam kebencian atau minimal tidak ikut menyukseskan agenda besar mereka. Namun mengapa beberapa saudara muslim kita bisa terjerumus ke dalam lingkaran zionis Yahudi? 

Ada beberapa sebab yang melatarbelakangi seseorang menjadi penganut freemason atau anggota JIL di Indonesia: Pertama, adanya pergulatan pikiran hebat yang terjadi dalam diri seseorang yang cenderung terlalu berpikir kritis terhadap fenomena di sekelilingnya. Pada diri orang ini terjadi sebuah proses dialektika antara keberadaan diri, Tuhan dan agama (Islam). Sayangnya orang ini tidak menemukan jawaban di dalam akidah Islam yang lurus. Salah satu penyebab karena pengetahuan dan pemahaman yang lemah tentang Islam. 

Hal ini bisa disebabkan oleh intensitas interaksi dengan Alquran dan hadis yang masih kurang. Orang ini belum memahami Islam secara kaffah (menyeluruh). Ia hanya memahami ayat Alquran dan hadis sepotong-potong atau sepenggal-penggal dalam bagian-bagian yang terpisah, yang kemudian dikritisi dengan menggunakan akal pikirannya sendiri. Kehausan ilmu yang ditandai dengan pergulatan pikiran ini dimanfaatkan oleh pengikut setia zionis Yahudi. 

Sejak 2001 freemason memang giat mengintai orang-orang muda usia 20-40 tahun. Mereka umumnya para mahasiswa, organisatoris, kolomnis, jurnalis, pengajar dan peneliti. Tujuannya adalah menyebarkan gagasan liberal seluas-luasnya. Ketangguhan dalam berdiskusi dan berpikir kritis dimanfaatkan JIL untuk mengonstruksi dasar-dasar pemikiran baru atau diistilahkan dengan cuci otak.

Dalam perjalanan waktu, seolah-olah orang ini telah menemukan jawaban atas kedahagaannya, padahal ia telah membuat ketimpangan besar antara ilmu dan akal pikiran. Penganut freemason sangat mengagungkan akal pikiran, mereka lupa bahwa di balik akal pikiran manusia punya hawa nafsu dan keterbatasan;

Kedua, pendidikan. Gerakan JIL ini sangat gencar melakukan sekulerisasi terhadap ilmu melalui lembaga-lembaga pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, terutama di negara-negara mayoritas penduduk Islam. Di Indoneisa, misalnya, lembaga pendidikan maupun organisasi yang berbau agama menjadi sasaran utama kelompok freemason ini. Sejumlah dalil dan ayat-ayat Alquran ditafsirkan secara bebas sesuai dengan keinginan dengan mengatasnamakan hak azasi manusia (HAM), demokrasi dan keadilan;

Ketiga, pengaruh teman dan lingkungan pergaulan. Orang-orang yang terbuka, suka berdiskusi dan mengkaji sesuatu secara mendalam tanpa disertai pondasi ilmu dan akidah yang kuat sangat mudah dipengaruhi. Orang ini kerap menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya dari teman dan lingkungan pergaulannya. Persis seperti kata pepatah, berteman dengan penjual minyak wangi akan terbawa harumnya, berteman dengan pandai besi akan merasakan panasnya;

Keempat, kebutuhan finansial, fasilitas dan jaringan secara nasional maupun international yang dianggapnya hebat dan memberi pengaruh bagi kehidupannya. Orang yang telah terlibat dalam jaringan JIL cenderung sulit melepaskan diri, karena mereka telah diikat oleh sponsor keuangan dan fasilitas-fasilitas kehidupan. Teman-teman mereka berasal dari jaringan yang sangat luas baik secara nasional maupun internasional. 

Mereka siap melindungi dan terus merekonstruksi pemikirannya (cuci otak) melalui diskusi-diskusi, forum ilmiah, media cetak maupun elektronik yang digelar secara intens, dan; Kelima, keinginan untuk terkenal. Tidak jarang pengikut gerakan JIL dan kelompok freemason awalnya hanya bertujuan untuk membuat sensasi publik saja. Dengan begitu dirinya akan cepat dikenal umum.   
 Agar tak terjerumus
Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk menghindari diri dan keluarga kita agar tak terjerumus ke dalam jaringan kelompok laknatullah ini: Pertama, Kenalkan terlebih dahulu anak dan keluarga dengan Allah dan Rasulnya sebelum ia mengenal dunia. Kenal yang dimaksud adalah kenal dengan sebenar-benarnya kenal.

Kedua, kaji dan dalami ilmu pengetahuan apapun secara ikhlas terlebih dalam memahami Al-Quran dan Hadist. Sebenarnya semua jawaban atas kehidupan ini ada dalam Al-Quran dan Hadist, hanya saja manusia perlu mengkajinya secara ikhlas. Ikhlas berarti berbuat sesuatu hanya dilatarbelakangi niat karena Allah dan diperuntukkan sebagai ibadah kepada Allah. Orang yang ikhlas akan terbebas dari budak nafsu dan keinginan pribadi dalam menginterpretasi sesuatu terlebih ayat-ayat Al-Quran dan sunnah. Seorang ilmuan yang ikhlas dipastikan tidak akan terjerumus dalam JIL dan menjadi pengikut aliran freemason.

Ketiga, pilih-pilih teman dan pergaulan. Pilih-pilih di sini diartikan sebagai waspada. Semua orang bisa dijadikan teman namun tidak semua teman bisa menjadi sahabat. Memutuskan pertemanan dan persahabatan dengan orang-orang dalam lingkungan JIL dan aliran freemason merupakan salah satu cara dalam menolong orang yang sudah terlanjur masuk dalam lingkaran JIL. Kemudian orang tersebut perlu mendapat lingkungan dan teman dari orang-orang yang berakidah lurus. 

Pembinaan ini bertujuan untuk membantu meluruskan kembali jalan pikirannya yang telah dikontruksi oleh gerakan JIL dan kelompok freemason. Namun demikian hal utama adalah adanya motivasi dari dalam diri sendiri untuk berubah. Ahli Psikologi dan agama dapat menolong orang tersebut untuk bangun dari alam bawah sadarnya. Sertakan pula istri dan keluarga, karena dibalik seorang suami ada pengaruh seorang istri, dan sebaliknya.

Keempat, boikot produk Yahudi. Rencana besar Yahudi didukung oleh perekonomian yang mapan. Boikot produk-produk Yahudi yang memberi keuntungan untuk menyukseskan agenda besarnya, dan; Kelima, Aktivis dakwah Islam jangan eksklusif. Risalah dakwah perlu disosialisasikan pada semua orang, tidak hanya pada sesama muslim dalam kelompok sendiri. Aktivis dakwah Islam jangan sampai kalah start dengan kelompok di luar Islam. Harus berani dan gencar melakukan promosi dan rekruitmen kepada semua lapisan masyarakat apalagi pejabat dan politisi pemegang kebijakan.
* Hafnidar Hasbi, Psikolog dan Dosen Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe. Email: nidar.psy@gmail.com

Sementara itu menurut Hartono Ahmad Jaiz menyebut JIL sangat berbahaya sebab mereka itu “sederhana” tidak memiliki landasan keilmuwan yang kuat dan tidak memiliki aqidah yang mapan. (lihat Buku Bahaya Islam Liberal: Hartono Ahmad Jaiz). Pengelolaan JIL, di Indonesia dikomandani oleh beberapa orang yang menonjol dan gencar menyuarakannya seperti Luthfi Assyaukanie (Universitas Paramadina Mulya), Ulil Abshar Abdhalla, Ahmad Sahal (Jurnal Kalam). Diantara tokoh-tokoh yang berpaham liberal serta menyuarakan ajaran “aneh” tapi mengatasnamakan Islam adalah tercatat sebagai berikut :
·          Nurcholis Madjid (Universitas Paramadina Mulya)
·          Abdurahman Wahid (Gus Dur)
·          Abdul Munir Mulkhan (Muhammadiyah)
·          Alwi Shihab ( Tokoh Partai Kebangkitan Bangsa )
·          Azyumardi Azra (IAIN Syarif Hidayatulloh, Jakarta)
·          Abdallah Laroui ( Muhammad V University, Maroko)
·          Masdar F. Mas’udi (Tokoh NU)
·          Goenawan Mohammad (Majalah Tempo, Jakarta)
·          Edward Said
·          Djohan Effendi ( Deakin University, Australia & Tokoh Ahmadiyah)
·          Abdullah Ahmad Na’im ( University of Khartoum, Sudan)
·          Jalaluddin Rahmat (Yayasan Munthahari, Bandung -Tokoh Syiah)
·          Mohammed Arkoun (University of Sorbonne, Prancis)
·          Nasaruddin Umar (IAIN Syarif Hidayatulloh, Jakarta)
·          Komarudin Hidayat (Yayasan Paramadina , Jakarta)
·          Said Aqil Siradj (PBNU, Jakarta)
·          Anand Krishna (Penganut Sinkritisme)
·          Sadeq Jalal Azam (Damascus University, Suriah)
·          Denny J.A (Universitas Jayabaya, Jakarta)
·          Rizal Mallarangeng (CSIS, Jakarta)
·          Budi Munawar Rahman (Yayasan Paramadina , Jakarta)
·          Ihsan Ali Fauzy ( Ohio University , AS)
·          Taufik Adnan Amal (IAIN Alauddin, Ujung Pandang)
·          Hamid Basyaib (Yayasan Aksara Jakarta)
·          Sukidi (kolumnis)
·          Syaiful Mujani (Ohio State University, AS)
·          Ade Armando ( Universitas Indonesia, Jakarta)
·          Syamsurizal Panggabean (UGM, Jogjakarta)
  Mengaburkan Konsep Tauhid Islam
Patut disayangkan dan sangat memprihatinkan bahwa para penggagas dan pendukung paham JIL adalah kebanyakan orang-orang Islam sendiri yang telah lupa dengan peringatan Al-Qur’an surat Al-Baqarah:120 tersebut diatas, mereka telah dijadikan antek-antek dan boneka Yahudi dan Nasrani, menjadikan Islam ini tunduk atau ter-subordinasikan kepada barat, pada akhirnya menghancurkan dan menyesatkan umat Islam. Sadar ataupun tidak, mereka (pengikut JIL) sedikit-demi sedikit telah berusaha memadamkan cahaya agama yang mulia ini. "mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya,walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya" (At-Taubah-32). “Kemudian Kami jadikan kamu berada diatas suatu syari’at dari urusan (agama)ini maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang bodoh” (QS.45:18). Yang perlu dipertanyakan disini: adakah kompromi atau kompensasi tertentu yang telah diberikan kaum kufarkepada tokoh-tokoh JIL yang notabene sebagai orang Islam ini ? Sehingga kita perlu mempertanyakan atau bahkan perlu meragukan keislaman mereka. Contoh nyata dari keraguan kita terhadap aqidah Islam mereka adalah seperti ucapan atau pemikiran tokoh JIL tulen, dia adalah Said Aqil Siradj, seorang tokoh PBNU.
Berikut kutipan pemikiran Said Aqil Siradj dalam sebuah tulisannya berjudul “Laa Ilaha Ilallah, Juga ” menurutnya :“ Agama yang membawa misi Tauhid adalah Yahudi,Nasrani dan Islam. Ketiga agama tersebut datang dari Tuhan melalui nabi dan rasul pilihan. Yahudi diturunkan melalui Musa, nasrani diturunkan melalui Isa dan Islam diturunkan melalui nabi Muhammad SAW. Kedekatan ketiga agama samawi yang sampai saat ini dianut manusia semakin tampak jika dilihat dari genealoi ketiga utusan (Musa,Isa, Muhammad) yang bertemu pada Ibrahim. Ketiga agama tersebut mengakui Ibrahim sebagai the Faunding Father’s bagi agama tauhid. Jadi ketiga agama tersebut sama-sama memiliki komitmen untuk menegakkan kalimat tauhid..... dari ketiga macam tauhid diatas(tauhid Rubbubiyah,Uluhiyah dan asma wa sifat), tauhid Kanisah Ortodhoks Syiria (Kristen Oerthodok) tidak memiliki perbedaan yang berarti dengan tauhid Islam……….dst
Pendapat aneh ini muncul dari seorang yang dianggap Kyai dan telah bergelar Doktor, tulisan itu dimuat dalam buku berjudul Menuju Dialog Teologis Kristen Islam karya Bambang Noorsena yang penganutKristen Orthodok Syiria. Said Aqil Siradj menyamakan konsepsi Tauhid Islam dengan Kristen dan Yahudi. Dari sini kita bisa melihat betapa “bobrok” pemikirannya dan begitu dangkal pemahaman agamanya (jahl murakkab). Konsepsi tauhid semacam itu adalah sangat tidak benar, salah besar . Kita sudah sangat faham (mafhum) bahwa disebutkan dalam Al Qur’an  Surat Al Ikhlas: 1-4 : “Katakanlah Dialah Alloh Yang Maha Esa, Alloh tempat meminta, tidak beranak  dan tidak diperanakkan , dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia”Padahal dalam konsepsi kesaksian (shahadat-nya Kristen Orthodok) seperti dimuat dalam bukunya Bambang Noorsena itu disebutkan “ Kami percaya pada Ilah (sembahan)yaitu Allah, Bapa, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan kepada satu-satunya Tuhan yaitu Isa Almasih, putra allah Yang Tunggal, yang dilahirkan dari Bapa (Al-Wujud) sebelum segala abad...................”
Jadi Tuhan-nya orang Kristen Orthodok adalah Tuhan yang mempunyai anak, disebut juga sebagai Bapa’ . dalam Mathius 3:17 disebutkan lagi tentang Tuhan yang beranak yaitu “ Maka suara dari langit mengatakan, Inilah anak-Ku yang kukasihi, kepadanya aku berkenan.”  Bagi kita sudah sangat jelas bahwa diutusnya Nabi Muhammad adalah untuk meluruskan penyimpangan ajaran yang telah diselewengkan oleh Yahudi dan Nashara. Seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa telah kafir-lah orang yang menganggap Isa anak Alloh (QS. Al-Maidah 72-75).Maka sangat-lah rusak pendapat dari seorang yang bergelar Doktor ini, bahwa tidak ada perbedaan antara konsepsi Tauhid Islam dan Kristen bahkan dengan Yahudi. Penggunaan istilah “Tauhid” untuk konsep ketuhanan Kristen saja sudah salah besar. Ini menggambarkan bahwa sang “Kyai-Doktor nyleneh” ini tidak memahami dengan benar apa konsepsi “Tauhid“ yang benar menurut Islam. Ia tidak paham terhadap ayat Allah yang menerangkan tentang Tauhid Rubbubiyah,Ulluhiyah dan asma wa sifat dalam Islam seperti termuat dalam QS Al-Fatihah:2, AlBaqarah:21-22, Albaqarah 163.
Jika penggunaan konsep Tauhid ini digunakan sembarangan dan semena-mena, bisa juga nantinya muncul istilah “Tauhid Budha”, “Tauhid Konghuchu”, “Tauhid Hindu”, “Tauhid Darmogandul” dan seterusnya. Karena menurut angapan Said Aqil bahwa agama apa saja dan siapa saja yang menyembah Tuhan, berarti ia telah ber-Tauhid, tidak peduli yang disembah itu Tuhannya 2, 3 bahkan Tuhan batu/patung sekalipun. Tampak kebodohan yang sempurna dari seorang yang bergelar Doktor ini. Pemikiran yang lagi-lagi “aneh dan nyeleneh” dari Said Aqil adalah seperti termuat dalam suatu majalah, Ia mengatakan bahwa “Jika seseorang berdoa’a pada batu secara khusyu’ maka Alloh akan mengabulkan do’anya karena kalau tidak terkabul maka Alloh akan sama dengan batu”. Sungguh rusak pemikiran orang ini, menyamakan Alloh dengan ciptaanNya yaitu batu, kita mohonkan perlindungan Alloh dari pengaruh pemikiran buruk dan orang-orang sesat ini, Maha suci Alloh, yang jauh dari segala kekurangan dan persangkaan hamba-Nya dan Dia lah Maha Sempurna.
Di lain kesempatan Said Aqil pernah mensponsori dan mengadakan doa bersama antar agama dalam sebuah tema “ Indonesia Berdoa” yang dihadiri beberapa tokoh kafir (non muslim)dan juga beberapa pimpinan NU. Sebuah acara mengada-ada (bid’ah mungkar). Hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasululloh dan para Sahabat. Bahkan tercatat dalam sejarah Rasullulloh, beliau mengadakan Mubahallah (do’a untuk melaknat) dengan tokoh Nashara, bukan do’a untuk mencari keselamatan bersama antara beberapa tokoh agama. Said Aqil juga pernah menulis makalah salah satunya berisi celaan dan tuduhan pada para sahabat Nabi Muhammad, bahwa setelah Nabi SAW meninggal, maka para sahabat meninggalkan agamanya dan bukan hanya kaum quraish tapi karena kesukuan. Dia juga pernah mengatakan bahwa “Abdullah bin Saba’ (pimpinan Syiah) dalam masa Rasululloh dan para sahabat tidak pernah ada dan tidak pernah dikenal dalam sejarah Islam”.Dalam hal ini Said Aqil berusaha menutupi dan mendistorsi sejarah Islam. Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi yang masuk Islam kemudian menyimpang dan memimpin Syiah) berusaha dihilangkan oleh Said Aqil dari panggung sejarah islam Sehingga seolah-olah Yahudi tidak dianggap sebagai musuh dan golongan yang pertama-kali memecah belah dan mengacak-acak Islam. Sehingga muncul pertanyaan besar dalam benak kita siapakah sebenarnya Said Aqil Siradj itu ? Apakah Dia kader Syiah yang sedang ber-taqiyah (menyembunyikan sesuatu) dan menyusup ke dalam umat Islam untuk mengacak-acak Islam?. Dalam suatu wawancara di koran, Said Aqil mengakui bahwa Dia pernah belajar Agama Syiah dan Dia tidak memper masalahkan sesatnya ajaran Syiah tersebut dan dianggapnya wajar-wajar saja. Tanda tanya besar bagi kita umat Islam, siapakah sebenarnya sang Kyai nyleneh ini, yang suka keluar masuk gereja dan berceramah di sana, yang pernah mengusulkan agar MUI dibubarkan saja, ini..!!!.
Penafsiran dan buah pemikiran yang lebih radikal dan terkesan “ngawur”, tanpa ilmu yang hak, juga dapat disimak dari pendapat Alwi Shihab, yang juga seorang Doktor pengusung dan pendukung gagasan Islam Liberal. Simaklah tulisan Alwi Shihab yang termuat di buku Islam Inklusif  yaitu :“ prinsip lain yang digaris kan Al-Qur’an adalah pengakuan eksistensi orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas agama, apapun agamanya, adalah layak memperoleh pahala, Lagi-lagi prinsip ini memperkokoh ide pluralisme keagamaan dan menolak ekslusivime. Dalam pengertian lain ekslusivisme beragama tidak sesuai dengan Al-Qur’an. Sebab Al-qur’an tidak membedakan antara satu agama dengan agama yang lainnya yaitu termuat dalam surat Al- Baqarah 62 dan Al-Maidah 69”
Jadi menurut penafsiran Alwi Shihab, pemeluk agama apapun akan memperoleh pahala sebab menurutnya Al-qur’an tidak membedakan komunitas agama yang ada. Tidak ada orang Kafir dan Munafik dalam Al-Qur’an.Sehingga pada akhirnya, pemeluk agama apapun akan menerima balasan Sorga asalkan dia berbuat baik. Menurutnya hanya beda jalan saja, tujuan tetap sama yaitu pada Tuhan. Amatlah mengherankan jika muncul orang Islam yang bergelar tinggi tapi ber-ilmu dien rendah,yang justru mengkampanyekan bahwa “inti semua agama adalah sama”.Kafir dan Islam sama saja.Bahkan agama itu sendiri adalah sama. Sungguh kita melihat suatu kebodohan yang sempurna dari penafsiran “Versi alwi Shihab” ini !!. Inilah yang disebutkan oleh Nabi sebagai Ruwaibidhah yaitu orang-orang bodoh berbicara masalah agama. Pemahaman Alwi sihab sunguh sangat-sangat aneh. Sebab begitu banyak ayat Al-Qur’an maupun Al-Hadist yang menyatakan kesesatan agama apapun diluar islam dan tidak diterimanya amalan yang tidak berpijak pada Islam. Bahwa Orang-orang kafir akan menjadi  penghuni neraka kekal selamanya (QS Al-Bayyinah: 6). Seperti termuat juga dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran:19 yang artinya ; “Sungguh agama yang diterima Alloh adalah agama Islam” dan ayat  85 artinya; “Barangsiapa mencari agama selain Islam maka sekali kali tidak akan diterima agama itu dan diakhirat termasuk orang orang yang rugi.”.Jadi penafsiran dan pemikiran gaya alwi Shihab ini jelas menyalahi tafsir para Ulama Ahlu Sunnah dan dia telah menafsirkan hanya berdasarkan akal dan hawa nafsu. Tentu sangat ceroboh jika dikatakan bahwa Al-qur’an mengesahkan penjelasan injil dan taurat yang telah diselewengkan itu ? Mengingat sulitnya menelusuri kembali keaslian injil dan tingkah Yahudi yang telah mengubah kitab yang diturunkan Alloh dan menyembunyikan kebenaran serta menulis kembali kitab itu menurut keinginan hawa nafsu mereka. Telah diingatkan dalam Al-Qur’an: “Sebagian orang-orang Yahudi mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya” (An-Nisaa’:46). “
Penutup
Tulisan ini tidak hendak menjatuhkan martabat seseorang, tapi untuk membongkar kesalahan fatal penafsiran dan pemahaman yang sesat serta berusaha meluruskan kembali Dienul Islam yang telah sempurna ini.Sehingga tidak menyesatkan banyak orang. Juga sebagai sarana untuk saling menasehati dalam kebenaran Keberadaan tokoh JIL yang muslim yang tampil dengan penafsiran gaya baru dan terkesan ilmiah sungguh menyesatkan umat islam, jika menyimak ide atau penafsiran yang dilontarkan tokoh JIL, sesungguhnya ide atau wacana yang dilontarkan tersebut masih “mentah”, karena semuanya tidak berdasarkan dalil ke-ilmuan yang shahih, mereka menafsirkan menurut gaya dan hawa nafsu mereka, tidak menggunakan rujukan ulama-ulama Salaf yang diakui keahlian dan pemahaman-nya  terhadap Dienul Islam. Sehingga kita umat islam perlu hati-hati terhadap penafsiran atau tema yang dilontarkan oleh penyeru kesesatan tersebut. Kita tidak menelan mentah-mentah ide mereka bahkan amat lebih baik jika menolak dan membongkar kesalahan mereka. Karena ini termasuk bagian dari Jihad dijalan Allah yaitu dengan membantah Ahlu bid’ah maupun Ahlu bathil lainnya Patut direnungkan firman Alloh:

Hai orang–orang yang beriman, janganlah kamu mengambil sebagai wali (rujukan,pemimpin, teman kepercayaan) orang orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan” (Al-Maidah:57) "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali." (QS. An-Nisaa’ 115).

TAFSIR SURAT AL-‘ASHR (MASA)

Mereka menyebutkan bahwa 'Amr bin al-'Ash pernah diutus untuk menemui Musailamah al-Kadzdzab. Hal itu berlangsung setelah pengutusan Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan sebelum dia ('Amr bin al-'Ash) masuk Islam. Musailamah al-Kadzdzab bertanya kepada 'Amr bin al-'Ash, "Apa yang telah diturunkan kepada Sahabatmu ini (Rasulullah) selama ini?" Dia menjawab, "Telah diturun¬kan kepadanya satu surat ringkas namun sangat padat." Dia bertanya, "Surat apa itu?" Dia (Amr) menjawab:
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran."
Kemudian Musailamah berpikir sejenak, setelah itu dia berkata, "Dan telah diturunkan pula hal serupa kepadaku." Kemudian 'Amr bertanya kepadanya, "Apa itu?" Musailamah menjawabيَا وَبْر يَا وَبْر، وَإِنَّـمَّا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْر وَسَائِرُكَ جَفْر نَقْر  (Hai kelinci, hai kelinci, sesungguhnya kamu memiliki dua telinga dan satu dada. Dan semua jenismu suka membuat galian dan lubang)."
Kemudian dia bertanya: "Bagaimana menurut pendapatmu, hai 'Amr." Maka 'Amr berkata kepadanya, "Demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa engkau telah berdusta."
Wabr [Kelinci] adalah binatang sejenis kucing, yang anggota badannya yang paling besar adalah kedua telinga dan dadanya, sedangkan anggota tubuh lainnya kurang bagus. Dengan halusinasi itu, Musailamah al-Kadzdzab bermaksud menyusun kalimat yang bertentangan dengan apa yang disampaikan al-Qur-an. Namun demikian, hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh seorang penyembah berhala pada saat itu.
Imam asy-Syafi'i رحمه الله mengatakan: "Seandainya manusia mencermati surat ini secara seksama, niscaya surat ini akan mencukupi mereka."
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
١. وَالْعَصْرِ
٢. إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
٣. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
 
1.   Demi masa,
2.   Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
3.   Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS.Al-Ashr [103]:1-3)
Al-'Ashr berarti masa yang di dalamnya berbagai aktivitas anak cucu Adam berlangsung, baik dalam wujud kebaikan maupun keburukan. Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam: "Kata al- Ashr berarti shalat 'Ashar. Dan yang populer adalah pendapat yang pertama.
Dengan demikian, Allah Ta'ala telah bersumpah dengan masa tersersebut bahwa manusia itu dalam kerugian, yakni benar-benar merugi dan binasa.
 (إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ) "Kecuali orang-orang yang beriman mengerjakan amal shalih." Dengan demikian, Allah memberikan pengecualian dari kerugian itu bagi orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal shalih melalui anggota tubuhnya.
(وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ) “Dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran." Yaitu, mewujudkan semua bentuk ketaatan dan meninggalkan semua yang diharamkan.  
(وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ) "Dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran." Yakni bersabar atas segala macam cobaan, takdir, serta gangguan yang dilancarkan kepada orang-orang yang menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.[]


[1]   Disalin dari kitab Tafsir Ibnu Katsir jilid 8 terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i

Selasa, 02 Juli 2013

KEBENARAN KISAH ASHABUL KAHFI DALAM ILMU FISIKA

Mereka serasa tertidur satu hari didalam gua, namun zaman ternyata telah berganti selama 309 tahun (pendapat lain menyatakan 350 tahun).

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعاً
“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS 18:25)
Bagaimana bisa?
Hal ini bisa dibuktikan dengan analisis melalui fisika modern, yaitu teori relativitas Einstein.

“Jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu (mendekati kecepatan cahaya), maka benda tersebut akan mengalami dilatasi waktu dan kontraksi panjang.”

Dan didalam Al Quran surat Al Kahfi ayat 18 termaktub :

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظاً وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَاراً وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْباً

“Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.” (QS 18:18)

“…Kami balik-balikkan mereka kekanan dan kekiri…” yang berarti mereka di dalam gua bergerak (digerakkan) dengan kecepatan tertentu. Berapa kecepatan mereka, sehingga mereka dapat hidup melitasi zaman? Dari data-data yang kita dapatkan dari Al-Quran berikut analisis untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus pembuktian kebenaran Ashabul Kahfi dalam Al-Quran.
Dari Al-Quran diperoleh data bahwa waktu menurut mereka (Ashabul Kahfi yang bergerak) t0 = 1 hari. Sedangkan waktu yang sebenarnya adalah t = 309 tahun = 109386 hari (tahun qomariah 1 tahun = 354 hari).

Dan jika nilai t1 dan t0 dimasukkan kedalam rumus :

V2 = 0,99999.C2
V = 0,999999C

Dari penjabaran diatas, jika para Ashabul Kahfi bergerak (digerakkan) mendekati kecepatan cahaya, maka ini membutktikan bahwa peristiwa tersebut sangatlah masuk akal untuk terjadi.

Kemudian penjelasan lainnya.

“…Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka…”
Mengapa orang yang melihat mereka ketakutan?
Seperti penjelasan teori relativitas diatas, bahwa jika suatu benda bergerak dengan kecepatan tinggi maka selalu mengalami dilatasi waktu juga mengalamai kontraksi panjang dengan perumusan ;
Jika V mendekati kecepatan cahaya, maka nilai L1 ( panjang benda yang diamati oleh kerangka acuan yang berbeda) akan mendekati nol. Ini berarti Ashabul Kahfi sudah hampir tidak terlihat wujudnya oleh orang yang melihatnya dari luar.

Namun bahwa mereka digerakkan ke kakan dan ke kiri , yang berarti mereka bergerak bolak balik, sesuai dengan teori fisika bahwa sebuah benda yang bergerak dengan arah yang berlawanan dengan arah semula, maka benda tersebut akan mengalami berhenti sesaat sebelum berbalik arah. Pada saat berhenti sesaat ini, maka panjangnnya akan kembali seperti semula. Sehingga setiap saat mereka akan berubah dari ukuran semula… mengecil… menghilang… membesar… ukuran semula. Begitu seterusnya. Dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana wujud mereka. Tentulah sangat mengerikan bukan?
Penjelasan berikutnya.

فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَداً
“Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,” (QS 18:11)

Mengapa telinga mereka ditutup?
Sebagaimana kita semua telah mengetahui bahwa bunyi ditimbulkan dari suatu benda yang bergetar atau bergerak dan getaran benda itu menggetarkan udara. Selanjutnya udara tersebut menggetarkan selaput telinga, gendang telinga yang frekwensi getarannya sama dengan getaran frekwensi getaran benda, maka kita mendengar bunyi.

Namun apabila suatu benda bergerak diatas kecepatan bunyi, maka akan terjadi patahan gelombang (supersonic fracture) yang menimbulkan ledakan suara yang luar biasa kuatnya, bahkan mengakibatkan pecahnya kaca dan bengunan-bangunan. Misalnya pada pengemudian pesawat supersonic yang mengakibatkan suara yang meledak-ledak dan meruntuhkan bangunan dan kaca-kaca disekitarnya.

Demikian pula dengan Ashabul Kahfi. Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa gerakannnya mendekati kecepatan cahaya sehingga juga berlaku patahan-patahan gelombang, yang akan menimbulkan ledakan suara seperti halnya pesawat supersonic. Oleh karena itu sesuai dengan ayat 11 surat Al Kahfi telinga mereka ditutup selama beberapa tahun, ternyata guna melindungi gendang telinga meraka dari ledakan-ledakan suara yang ditimbulkan dari gerakan mereka yang terlalu cepat.
Dari analisis diatas kita dapat membuktikan secara ilmiah kebenaran cerita Ashabul Kahfi yang dulu oleh orang-orang barat dianggap cerita fantasi. Karena mereka mengganggap cerita itu tidak masuk akal, dan selama ini belum terbukti orang mampu hidup tanpa makan dan minum sampai bertahun-tahun.

Dan mereka memvonis semua cerita yang tidak masuk akal tidak dapat diterima sebagi suatu kebenaran. Persepsi yang demikian itu salah, analisis diatas membuktikan bahwa sesuatu yang tadinya tidak masuk akal menjadi masuk akal. Ini membuktikan bahwa akal manusia itu terbatas, karena mungkin akal manusia belum mampu mencerna dan menganalisis hal-hal tersebut.
Wallahu a’lam bishowab...

Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah

Tarekat ini berhulu pada diri Nabi Muhammad SAW yang kemudian mengalir kepada Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq R.A, sahabat kesayangan Nabi Muhammad SAW dan khalifahnya yang pertama, yang telah menerima ilmu istimewa seperti diterangkan Nabi Muhammad SAW sendiri, "Tidak ada sesuatu pun yang dicurahkan Allah ke dalam dadaku, melainkan aku mencurahkan kembali ke dalam dada Abu Bakar"
Pola hidup bersahaja yang ditampilkan Abu Bakar ditiru para sufi pada periode selanjutnya. Menurut riwayat, Abu Bakar pernah hidup dengan sehelai kain saja. Ia pernah memegang lidahnya sendiri, seraya berkata, "Lidah inilah yang senantiasa mengancamku". Kemudian untuk menjaga dari berkata-kata yang tidak bermanfaat, Abu Bakar lazim mengulum batu kerikil.
 Kedermawanan Abu Bakar juga tak terukur nilainya. Misalnya pada Perang Tabuk, Rasulullah SAW meminta kepada kaum Muslim agar mengorbankan hartanya. Maka datanglah Abu Bakar membawa hartanya dan diletakkannya di antara dua tangan Rasulullah SAW, seraya Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Apalagi yang engkau tinggalkan bagi anak-anakmu, wahai Abu Bakar?" Jawabnya sambil tertawa, "Saya tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya".
Sikap kedermawanan Abu Bakar ini merupakan kerelaan berkorban di jalan Allah. Dia hanya menyandarkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya, dan hal ini merupakan sikap kepasrahan yang tinggi yang kemudian dijadikan sebagai teladan bagi para sufi. Di mata para sufi, sikap-sikap Abu Bakar seperti itu merefleksikan ahwal (keadaan) yang selalu disandarkan kepada Allah semata. Inilah, yang oleh kaum sufi dianggap sebagai benih-benih akhlak para sufi.
Oleh sebab itu, kendatipun di abad 1 Hijriah orang Islam belum mengenal istilah tasawuf, tetapi benih-benihnya sudah tampak, seperti pada diri Abu Bakar. Dan pada masa itu banyak sekali ditemui perilaku atau sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya, yang mencirikan pengajaran dan amalan ilmu tasawuf.
Tarekat yang diterima Abu Bakar yang nantinya populer dengan nama Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah telah mengalami pergantian penyebutan beberapa kali. Dalam silsilah keguruan tarekat ini, Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq berada pada urutan pertama. Periode antara Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq sampai Sayyidi Syaikh Abu Yazid al-Bistami, yang nama aslinya Tayfur ibn Isa ibn Surusyan al-Bistami dan berada pada urutan kelima, dinamakan "Shiddiqiah". Periode antara Syaikh Tayfur sampai Sayyidi Syaikh Abdul Khalik Fajduani, silsilah kesembilan, dinamakan "Tayfuriah". Periode antara Khawajah Abdul Khalik Fajduani yang lahir di daerah Uzbekistan itu sampai Sayyidi Syaikh Bahauddin Naqsyabandi, silsilah kelimabelas, dinamakan "Khawajakaniah". Diambil dari istilah Khwajagan (= tuan guru yang bersilsilah). Periode antara Syaikh Bahauddin Naqsyabandi sampai Sayyidi Syaikh Nashiruddin Ubaidullah Al-Ahrar, silsilah kedelapanbelas, dinamakan "Naqsyabandiyah".
Dalam tahun-tahun terakhir abad ke 10 H/16 M, pusat aktivitas Naqsyabandiyah dan daya tarik intelektualnya bergeser ke India. Sayyidi Syaikh Muaiyiduddin Muhammad Baqibillah, silsilah kedua puluh dua, yang lahir di Kabul (971 - 1012 H/1563 - 1603 M), berpetualang di Transoxiana, Samarqand, Bukhara, Kashmir dan sekitarnya, kemudian datang ke India.
Dalam suatu catatan, dia katakan "tengah membawa benih kesucian (dalam tarekat) dari Samarqand dan Bukhara dan menyemaikannya di tanah subur India." Dalam waktu singkat, lima tahun, dia mencurahkan perhatian yang sama kepada orang awam dan kaum bangsawan Mughal. Dia sampaikan pesan silsilah kepada para ulama, kaum sufi, para malik (tuan tanah) dan manshabdar (pejabat) dengan tingkat keefektifan yang sama. Penglihatannya tajam dalam memilih bakat terbaik di pelbagai area - dari kalangan tokoh politik Nawab Murtadha Khan, di kalangan kaum sufi Syaikh Ahmad Faruqi Sirhindi, dan dari kalangan ulama Syaikh Abd Al-Haqq - adalah murid-murid terkemuka Khawajah Muhammad Baqi.
Tarekat Naqsyabandiyah pada periode antara Syaikh Ubaidullah Al- Ahrar sampai Sayyidi Syaikh Ahmad Faruqi Sirhindi, silsilah kedua puluh tiga, dinamakan "Ahrariah". Periode antara Syaikh Ahmad Al-Faruqi sampai Sayyidi Syaikh Dhiyauddin Khalid Kurdi Al Usmani, silsilah kedua puluh sembilan, dinamakan "Mujaddidiah".
Lalu periode antara Syaikh Khalid Kurdi Al Usmani sampai dewasa ini dinamakan "Khalidiah", atau dikenal dengan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah.
Setelah itu, tarekat ini tidak mengalami perubahan penyebutan nama. Karena bagi para pengamal tasawuf di masa berikutnya, yang menjadi pusat perhatian adalah ilmu yang diajarkan dan sumber ilmu yang ditunjukkan pada untaian silsilah keguruan. Lalu, setelah Maulana Syaikh Khalid, silsilah keguruan berikutnya berturut-turut adalah Sayyidi Syaikh Abdullah Afandi, Sayyidi Syaikh Sulaiman Qarimi, kemudian Sayyidi Syaikh Sulaiman Zuhdi.
Pada Sayyidi Syaikh Sulaiman Zuhdi, yang berkedudukan di Jabal Qubaisy dan berada pada silsilah ketiga puluh dua, berguru murid-murid yang nanti menjadi penerusnya, yakni Syaikh Usman Fauzi (Jabal Qubaisy), Sayyidi Syaikh M. Hadi (Girikusumo - Jawa Tengah), putra beliau sendiri Sayyidi Syaikh Ali Ridho (Jabal Qubaisy), Sayyidi Syaikh Sulaiman (Huta Pungkut - Sumatera Barat), dan Sayyidi Syaikh Abdul Wahab Rokan (Babussalam-Aceh). Silsilah keguruan selanjutnya berada pada Sayyidi Syaikh Ali Ridho.
Sekembali dari Jabal Qubaisy, Sayyidi Syaikh Sulaiman mengembangkan tarekat ini yang berpusat di Huta Pungkut-Sumatera Barat, dan mendapatkan murid yang sangat cemerlang, yakni Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim Al-Khalidi (Buayan-Sumatera Barat). Sayyidi Syaikh Muhammad Hasyim melawat ke Jabal Qubaisy dan mendapatkan ijazah keguruan pada silsilah ketiga puluh empat. Selanjutnya kepada Sayyidi Syaikh Hasyim Al-Khalidi inilah Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya berguru dan mendapatkan ijazah keguruan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah dan pemegang silsilah ketiga puluh lima.
Selain dari Sayyidi Syaikh Hasyim, Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya juga mendapatkan ijazah keguruan dari Syaikh Abdul Majid (Batusangkar) dan Syaikh Syahbuddin (Sayurmatinggi) yang keduanya juga pemegang silsilah keguruan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah namun dari alur silsilah yang berbeda dengan Sayyidi Syaikh Hasyim.
Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah yang diwarisi dan diteruskan oleh Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya berkembang pesat di Indonesia, Malaysia bahkan juga ada Amerika Serikat. Rumah-rumah wirid yang lazim disebut surau tumbuh berkembang hampir 700 tempat. (Baca Mozaik edisi April 2008).
Untuk mengelola tempat-tempat wirid yang tersebar itu, berikut mewadahi aktivitas sosial kemasyarakatannya, maka didirikan Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya yang berpusat di Medan. Yayasan ini menaungi bidang ketarekatan dan lembaga pendidikan, mulai dari TK hingga perguruan tinggi.
Selanjutnya ijazah keguruan Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, yang oleh para gurunya dijuluki "guru para cerdik pandai," diteruskan oleh putra pertama beliau Syaikh Drs. H. Iskandar Zulkarnain, SH.MH. Kemudian sekarang ini ijazah keguruan tersebut sampai pada putra kedua, Syaikh H. Abdul Khalik Fajduani, SH. Semenjak itu, nama tarekat dari jalur silsilah ini, lazim disebut Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiah dalam naungan Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya.
Menurut uraian K.A. Nizami dalam Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam Manifestasi (2003), Editor: Seyyed Hossein Nasr, sepanjang sejarahnya, Tarekat Naqsyabandiyah memiliki dua karakteristik menonjol yang menentukan peranan dan pengaruhnya; (1) Ketaatan yang ketat dan kuat pada Hukum Islam (syariat) dan Sunnah Nabi. (2) Upaya tekun untuk mempengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan penguasa serta mendekatkan negara pada agama.
Tidak seperti tarekat-tarekat sufi lainnya, lanjut Nizami, Tarekat Naqsyabandiyah tidak menganut kebijaksanaan isolasi diri dalam menghadapi pemerintahan yang tengah berkuasa saat itu. Sebaliknya, ia gigih melancarkan ikhtiar dengan pelbagai kekuatan politik agar dapat mengubah pandangan mereka. "Raja adalah jiwa dan masyarakat adalah tubuh. Jika sang Raja tersesat, rakyat akan ikut tersesat." Demikian kutipan pesan yang dikatakan oleh Syaikh Ahmad Sirhindi.*


Mengenal Guru Thareqat Naqhsyabandiyah Yayasan Prof.Dr. H Kadirun Yahya

Awal mula Thareqat Naqsyabandiah adalah ilmu rahasia Allah yang amat suci yang kemudian Allah menyuruh malaikat Jibril untuk memberikan ilmu rahasia yang sangat halus dan suci itu kepada satu-satunya hambanya yang sangat dikasihi dan sangat disucikan ruhaninya, hamba yang menjadi pilihannya, yang menjadi junjungan para nabi, rasul, para khalifah Allah Ta’ala, para waliyullah dan manusia seluruhnya, yaitu Nabi Muhammad Saw.
Ilmu rahasia ini selanjutnya oleh ulama sufi disebut dengan ilmu tasawuf atau ilmu thareqat. Dan nama-namanya mengikuti guru-guru yang mengembangkannya dari zaman Rasulullah sampai zaman sekarang ini. Tetapi agaknya dari zaman Baha’udin sampai saat ini, thareqat ini tidak banyak mengalami perubahan nama, yaitu Naqsyabandi. Yang ada setelah Baha’uddin hanya nama tambahan, seperti al Mujaddidi, al Kholidi, al Madhari, al Haqqani, dan al Amini. Bahkan ada yang menamai Thareqat Jabal Abu Qubais, sebagai tanda silsilahnya masih bersambung terus sampai Rasulullah.
Thareqat Jabal Hindi, untuk nama Thareqat Naqsyabandi yang terputus silsilahnya, atau thareqat yang mursyidnya mengangkat sendiri, bukan diangkat oleh guru
  
Thareqat Pada Zaman Rasulullah (571-632 M)

Semasa Nabi masih hidup, belum dikenal bentuk perkumpulan yang didefinisikan dan dinamai Thareqat tetapi keberadaannya berbentuk sebuah kegiatan rutin, khusus, halus, dan tersembunyi berupa kegiatan dzikir-dzikir untuk Tazqiyatun Nafs dan Tazqiyatul Qolb, {pembersihan jiwa dan hati}, karena halusnya maka dinamai thareqatus Sirriyah. Kemudian dari padanya ilmu rahasia ini diwariskan kepada Abu Bakar as Shiddik.

Thareqat Pada Zaman Khalifah-Khalifah

1.    Abu Bakar as Shiddiq
 
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar as Shiddiq, kegiatan rutin dan halus itu dinamai Thareqatul Ubudiyah, karena wujud gambaran tingginya dan totalitas pengabdian Abu Bakar kepada Nabi Muhammad, dalam rangka mengabdi kepada Allah Swt. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

2.    Salman al Farisi
Kesempurnaan Sayyidina Abu Bakar as Siddiq dalam pengabdiannya dan perjuangannya melaksanakan seluruh perintah dan amalan Nabi Muhammad, termasuk kegiatan dzikir-dzikir secara terus-menerus. Dikembangkan dan diamalkan dzikir-dzikir khusus dan halus tersebut. Kemudian dinamai dengan Thareqatus Siddiqiyyah. Thareqat ini namanya populer sampai pada masa Abu Yazid al Bustami. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

3.    Qasim ibn Muhammad ibn ‘Abi Bakar al Shiddiq.
Qutubul Aulia’, Imam Thareqatus Siddiqiyah. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

4.    Ja’far as Shidiq (w.148/765).
Sayyidina Ja’far as Shiddiq ra cucu Sayyidina Qasim ra dari Ibundanya. Diangkat menjadi Imam Syiah ke-6 menggantikan ayahandanya Muhammad Baqir sebagai Imam Syiah ke-5, cucu Sayyidina Ali ra. selama proses belajar. Pengaruh Ibundanya paling merasuk pada ilmunya. Yang bernasabkan pada kakeknya Sayyidina Qasim, dan secara politis mengikuti jejak ayahandanya konsekuensi putra seorang Imam syiah. Khalifah-khalifah Ja’far ash Soddiq yang mengemban Thareqat ash Shiddiqiyah dan menjadi penyambung antara Imam Ja’far dan Abu Yazid al Busthami adalah Sayyidina Imam Musa al Qadim, Sayyidina Imam Ali Ridho dan Syaikh Ma’ruf al Kharhi. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan secara barzakhi kepada :

5.    Abu Yazid Thaifur al Bisthami (w.260/874).
Auliya’ Akbar, al Qutub. Karya-karyanya yang dieksplorasi dari pengalaman ruhaninya, merupakan salah satu dasar doktrin Wahdatul al Wujud, Wahdatul al syuhud, Ana al Haq dan Rabbani. Doktrin ini juga dianut oleh Abu Hafas al Naisabur, Abu Sa’id al Harraz, Junaid al Baghdadi, at Thusi, al Kalabasi, al Hallaj, Ibnu Arabi, Suhrawardi dan Maulana Rummi sedangkan Wahdatul al syuhud dianut oleh sufi al Makki, Muhasibi al Sulami, Hujwiri, al Qusyairi dan al Ghazali serta Abdul Qadir Jilani dan Ahmad Rifa’i. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan secara barzakhi kepada :

6.    Abul Hasan al Kharaqani (w.425/1034).
Inisiasi atau bai’at Abu Yazid kepada Abu Hasan dilakukan secara gaib atau melalui Nabi Hidir yang dikenal dengan istilah bai’at uwaisi. Status kemursyidannya diperoleh langsung dari Nasabut Thareqatut Thaifuriyah. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

7.    Abu ‘Ali al Farmadzi (w.535/1084),
Quthubul Auliya, ahli fiqih dan ahli haditas. Di Nesafur fatwa-fatwanya senantiasa menjadi rujukan-rujukan para juru da’wah (da’i). Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

8.    ‘Abu Ya’kub Yusuf al Hamadani (w.535/1140)
8 Dasar Thareqat diperkenalkan sebagai bentuk doktrin penyempurnaan, (1) Husy dar dam, (2) nazhar bar qadam, (3) safar dar watan, (4) khalwat dar anjuman, (5) yadkard, (6) bazgasyt, (7) nigah dast, dan (8) yads dast Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada:

9.    ‘Abd al Khalik al Ghujdawani (w.617/1220).
Syaikh Abdul Khalik al Fajduani nasabnya sampai kepada al Imam Malik bin Anas RA. Abdul Khalik pernah diajari praktek pelaksanaan Nafi-Isbat di laut oleh Nabi Hidir. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

10.    ‘Arif al Riwgari (w. 657/1259).
Al Qutub dan ahli tafsir. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

11.    Mahmud Anjir Faghnawi (w.643/1245 atau 670/1272). Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada:

12.    ‘Azizan ‘Ali al Ramitani (w.705/1306 atau 721/1321). Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

13.    Muhammad Baba al Sammasi (w.740/1340 atau 721/1321).
Sufi besar penganut doktrin Wahdatul al Syuhud dan Wahdatul al Wujud. Ahli Fiqih dan Tafsir al Qur’an. Ilmu agama (Fiqih, Hadits serta Tafsir al Qur’an) Baha’uddin diperolehnya atas bimbingannya. Baba Samasi orang Cina yang bermukim di Sammas dekat Tasken perbatasan dengan Cina. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

14.    Amir Sayyid Kulal al Bukhari (w.772/1371).
Sufi besar, seorang ahli Fikih dan Ilmu Kalam, Wali al Qutub serta ahli tembikar terkenal yang produksinya tersebar ke Asia (Cina) dan Eropa. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

15.    Muhammad Baha’ al Din Naqsyaband (717-791/1318-1389).
Auliya Allah yang Qutub, Penasehat Utama Sultan Khalil di Samarqand, fatwa-fatwanya menjadi rujukan Hakim-Hakim Agung dalam memutuskan perkara. Karena kebesaran namanya, Thareqat yang di pimpinnya tersebar dengan cepat dan termasyhur serta memiliki pengikut yang sangat banyak dan tersebar ke seluruh dunia. Kemudian darinya diwariskan kepada :

16.    Maulana Syaikh Muhammad al Bukhari al Khawarizumi QS.
Penghulu di Bhukara’ tempat kelahiran seorang perawi hadits Bukhari Muslim. beliau adalah al Qutub. Pengajar Hadits di beberapa sekolah. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

17.    Maulana Syaikh Ya’kub al Jarkhi al Hasyary QS.
Wali Qutub dan ahli Tafsir al Qur’an. Bersama Kwaja Muhammad Parsa yang juga murid Baha’uddin Naqsyabandi telah membuat Tafsir Qur’an. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

18.    Syaikh Nasiruddin Ubaidullah al Ahrary as Samarqandi
Salah satu Wali Qutub yang amat kaya. Kekayaannya pernah menutup hutang-hutang kerajaan Samarqan, membantu kerajaan Mugol India keluar dari krisis keuangan. Setiap tahun berzakat 60.000 ton gandum. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

19.    Maulana Syaikh Muhammad az Zahid QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

20.    Maulana Syaikh Darwisy Muhammad as Samarqandi QS.
Anak saudara perempuan Syaikh Muhammad az Zahid QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

21.    Maulana Syaikh Muhammad al Khawajiki al Amkany as Samarqandi QS.
Putra Syaikh Darwisi Muhammad as Samarqandi QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

22.    Syaikh Muayyiduddin Muhammad al Baqibillah QS.
Al Qutub. Asal Turki yang kemudian bermukim di India. Membangun Madrasah termegah dan terbesar di masanya. Kemudaian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

23.    Syaikh Akhmad al Faruqi as Sirhindi QS.
Murid kesayangan Baqibillah. Ketika al Faruqi mulai belajar kepadanya dan berbaiat, baqibillah telah berfatwa al Faruqi adalah orang yang akan menggantikan dirinya. Menjelang kematiannya, Baqibillah memohon untuk menunda ruhnya dicabut sampai menunjuk al Faruqi sebagai penggantinya, ketika al Faruqi sedang bepergian jauh. Ia seorang yang ahli Fiqih dan hafal al Qur’an. ia adalah Mujadid Millenium ke dua. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

24.    Syaikh Muhammad Ma’sum QS.
Beliau adalah putra Syaikh Akhmad al Faruqi as Sirhindi QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

25.    Syaikh Muhammad Saifuddin QS.
Beliau adalah putra Syaikh Syaikh Muhammad Ma’sum QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

26.    Syaikh Syarif Nur Muhammad al Badwani QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

27.    Syaikh Samsuddin Habibullah Jan Janany Muzhhir al ‘Alawi QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

28.    Syaikh Abdullah ad Dahlawi QS.
Nasab Syaikh Abdullah sampai pada Sayyidina Ali bin Abu Thalib. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

29.    Maulana asy Syaik Dhiyauddin Khalid al Utsmani al Kurdi QS.
Auliya Akbar, Sultanul Auliya’, al Qutub yang sangat termasyhur, khalifah-khalifahnya tersebar ke seluruh dunia. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

30.    Syaikh Abdullah al Affandi QS.
Kepala sekalian guru-guru dalam negeri Mekkah al Musyarrafah. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :
31.    Syaikh Sulaiman al Qarimi QS.
Khalifahnya yang terkenal di Indonesia: KH. Ubaidah dan KH. Abdurrahman kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

32.    Saidis Syaikh Sulaiman az Zuhdi QS.
Menantu Syaikh Sulaiman al Qarimi QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada:

33.    Saidis Syaikh Ali Ridha QS.
Menantu Maulana Sayyidisy Syaikh Sulaiman az Zuhdi QS. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

34.    Saidis Syaikh Muhammad Hasyim al Khalidi QS.
Khalifahnya yang sangat menonjol adalah Prof. Dr. Kadirun Yahya. KH. As’ad Syamsul Arifin Situbondo pernah meminta talkin dzikir Naqsyabandi, ia dianjurkan untuk mengembangkan pesantren ayahandanya KH. Syamsul Arifin. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

35.    Saidis Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin al Khalidi QS (1917-2001).
Kadirun Yahya dikenal sebagai thabib besar, wali qutub dan seorang akademisi serta ahli fisika-kimia yang bergelar profesor dan doktor. Di bawah bimbingannya Thareqat Naqsyabandiah. Mujaddiyah Khalidiah berkembang di perkotaan melalui kampus-kampus, yang sebelumnya sangat asing. Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

36.   Saidi Syaikh Iskandar Zulkarnaen SH (2001-2009)
Anak Keturunan dari Saidi Syaikh Kadirun Yahya Muhammad Amin al Khalidi, Kemudian darinya ilmu rahasia ini diwariskan kepada :

37.   Saidis Syaikh Abdul Khalik Fadjuani (2009-…)